WBN, Cirebon – Kasus perusakan situs MatangAji beberapa bulan lalu masih menyisakan tanda tanya besar di kalangan masyarakat, bagaimana perkembangan kasus tersebut?

Apakah cukup sampai disini atau akan berlanjut …

Apakah situs MatangAji benar-benar peninggalan sejarah atau hanya ciptaan baru?

Setidaknya itulah pertanyaan yang muncul di benak orang-orang saat membahas situs tersebut. Apalagi kini tengah ramai menjadi perbincangan hangat suksesi kepemimpinan Keraton Kesepuhan pasca meninggalnya Sultan, baik Putra Mahkota maupun keturunan lain yang baru saja beredar di YouTube, pengakuan Keturunan Syech Syarif Hidayatullah. dan keturunan Sultan V MatangAji yang setelah beberapa periode Sultan kini Bangkit Menuntut Tahta Keraton Kesepuhan.

Berdasarkan penelusuran tim WBN terkait jejak kasus Perusakan Situs Matangaji di Dinas Kebudayaan terkait dan dari kenyataan yang terjadi di lapangan seusai sidang di gedung DPRD Kota Cirebon antara pengembang selaku pengembang pelaku perusakan dan ahli sejarah budaya serta Dinas Kebudayaan dan keraton Kesepuhan dan Kanoman diputuskan untuk segera memperbaiki pembangunan kembali bangunan situs tersebut dalam waktu 30 hari ke depan dan Dinas Kebudayaan menindaklanjutinya untuk melakukan uji lab terhadap artefak yang ada di lokasi dan membawanya ke Badan Purbakala Provinsi Jabar.

Kuncen saat membersihkan artefak bata merah

Setelah beberapa bulan tidak ada kepastian terkait kasus ini.
Dari hasil penggeledahan tim WBN ke Dinas Terkait, diperoleh informasi dari Kadisbudpar Bpk. Agus Suherman bahwa ketika tim peneliti / arkeolog diberangkatkan sulit untuk menyimpulkan bahwa lokasi tersebut merupakan peninggalan sejarah karena kondisinya sudah sangat rusak 70-80% hancur bercampur dengan TPA dan bebatuan serta pohon di samping lokasi situs berada di sepanjang jalan. sungai.

Melihat kondisi tersebut, tim arkeolog hanya mengambil sampel batu bata dan mencatat terdapat peninggalan budaya dari sejarah Cirebon.
Sampel batu bata ya, merupakan ciptaan kuno seperti istana … hanya untuk bukti sejarah otentik yang menyebutkan lokasi ini dalam teks sejarah belum ditemukan. Sehingga Dinas Kebudayaan hanya menyimpan catatan.
Dan akan meminta pengembang untuk merekonstruksi bangunan situs tersebut kembali seperti semula.
Dan Dinas Kebudayaan menunggu Komisi Pendidikan dan Kebudayaan DPRD untuk memberikan laporan hasil penelitian para arkeolog dalam sesi tindak lanjut hasil perbaikan situs Matang Aji. Dengan kata lain, kewenangan mengambil keputusan ada di tangan DPRD dan Walkot.

Apakah akan diproses sesuai dengan undang-undang tentang perusakan situs sejarah atau hanya akan dikenakan sanksi untuk rehabilitasi dan rekonstruksi situs?….

WBN / cbn / rudjul & tim | redpel ndra