WBN NTT │ Sebuah studi yang dilakukan oleh Kantor Kebudayaan Provinsi Nusa Tenggara Timur pada tahun 2018 menguraikan secara rinci Studi Tradisi Megalitik Desa Adat Nggela yang terletak di Kabupaten Wolojita, Kabupaten Ende, Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Dirangkum oleh Warisan Budaya Nusantara, Editorial NTT (13/3/2020), Studi Megalitik ini menguraikan sejumlah kesimpulan tentang Desa Megalitikum Nggela Flores.

Dikutip oleh media ini, Kepala Kebudayaan Provinsi Nusa Tenggara Timur saat itu (18 November 2018), Drs. Sinun Petrus Manuk dalam sambutannya pada hasil penelitian menekankan syukur kepada Allah SWT karena studi Tradisi Megalitik yang berkaitan dengan Penyelesaian Tempat Bersejarah di Kabupaten Ende dapat diselesaikan dengan baik.

Dia menekankan bahwa berbagai budaya dan ritual tradisional sebagai cermin dari tradisi megalitik juga ditemukan di Pulau Ende Flores dan banyak dari mereka ditemukan dalam sisa-sisa megalitik yang masih terpelihara dengan baik.

Pemerintah Provinsi NTT mengimbau agar tidak memungkinkan globalisasi dan kemajuan teknologi yang dapat diakses tanpa hambatan dan batasan, menghancurkan warisan budaya, baik budaya fisik maupun tradisi yang telah berakar dalam setiap aspek kehidupan masyarakat Nusa Tenggara Timur. "Beta Cultural Beta NTT", demikian filosofi Pelestraian menggemakan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Berikut ini kutipan dari kesimpulan penelitian tim peneliti tentang Nggela Megalithic Village oleh Tim Peneliti, Ketua, Ir. Pilipus Jeraman, MT, terdiri dari Dra. Jublina Tode Solo, M.si, Sang Ayu Ketut Asriani, S.Sos.

Hasil studi tim peneliti tentang tradisi megalitik dan hidup serta arsitektur rumah tradisional di desa Nggela menunjukkan bahwa penduduk asli Nggela masih mempertahankan kesinambungan tradisi. Fakta bahwa tradisi megalitik berlanjut terus dibuktikan dengan penerapan ritual tradisional yang masih dilakukan setiap tahun oleh komunitas Nggela; di antara mereka adalah dua loka lolo dan dua loka pare.

Demikian juga, beberapa elemen situs / pemukiman seperti kanga lo, kanga ria, puse nua, tubu musu, keda dan arsitektur tradisional masih terpelihara dengan baik. Ada fenomena yang menarik sehubungan dengan tradisi megalitik, yaitu tidak adanya batasan pada pelaksanaan upacara tradisional meskipun sebagian besar orang di Nggela sudah menganut ajaran agama Katolik dan Islam yang taat, tetapi mereka tetap menjalankan tradisi yang diserahkan turun oleh pendahulu mereka (leluhur). ini membuktikan bahwa antara tradisi nenek moyang dengan ajaran agama Katolik dan Islam ada kolaborasi yang baik, sehingga baik upacara adat maupun ibadah sesuai ajaran Katolik dan Islam memiliki posisi masing-masing dan tidak saling bertentangan. Harus dipahami bahwa esensi penghormatan terhadap leluhur dalam berbagai tradisi ritual tradisional seperti yang dipraktikkan oleh masyarakat adat Nggela bukanlah untuk menyembah leluhur tetapi sebagai upaya untuk membangun tali cinta dan hormat serta menghormati orang-orang yang diyakini memiliki peran sebagai penjaga, pelindung dan mediator manusia dengan Tuhan. Sedangkan menyembah Tuhan adalah manifestasi dari iman orang-orang Nggela dalam kepercayaan Katolik dan Islam dalam konteks melaksanakan perintah agama.

Jadi, inilah sebenarnya jawaban mengapa masyarakat adat Nggela walaupun mereka sudah memeluk agama Katolik dan Islam, tetapi mereka tetap memegang tradisi ritual yang diwarisi dari leluhur mereka seperti upacara tradisional "Nggua Loka Lolo" dan "Nggua Loka Pare" atau lainnya ritual tradisional yang mereka pegang setiap tahun sesuai dengan kalender kebiasaan mereka.

Peninggalan budaya megalitik seperti kanga lo, kanga ria, rate, dan puse nua sebagai pusat ritual di desa tradisional Nggela adalah penanda yang membedakan antara ruang profan dan ruang religius (sakral).

Dengan kata lain, secara spasial peninggalan megalitik ini menunjukkan penanda teritorial yang terkait dengan prosesi budaya dan hierarki spasial di desa tradisional Nggela. Pola penempatan 74 warisan budaya megalitik secara tidak langsung mempengaruhi pola spasial atau pemukiman spasial pemukiman desa tradisional Nggela.

Kekhawatiran tentang keberadaan makam di halaman desa atau halaman rumah dalam kehidupan masyarakat di desa tradisional Nggela memiliki indikasi kuat bahwa mengubur anggota keluarga yang meninggal di halaman desa atau halaman rumah adalah tradisi yang tidak melulu disebabkan oleh ruang terbatas untuk pemakaman umum, tetapi karena ada alasan tertentu, seperti: rasa hormat, kedekatan emosional, kemudahan dalam perawatan makam, tanda atau kepemilikan tanah, untuk keselamatan dan keamanan isi makam, karena dari wasiat dari almarhum dan tradisi para leluhur. Sedangkan keberadaan kuburan para leluhur di halaman desa atau di tempat-tempat strategis di desa selain sebagai ungkapan penghormatan mereka terhadap leluhur mereka; juga karena leluhur diyakini memiliki peran khusus, yaitu sebagai perantara antara manusia yang masih hidup dengan Tuhan.

Fenomena lain yang juga menjadi masalah di desa adat Nggela adalah menurunnya kualitas lingkungan fisik yang disebabkan oleh penempatan fasilitas seperti kabel listrik, jaringan air bersih dan kamar mandi / wc yang tidak tertata dengan baik. Penggunaan seng dan bata bergelombang tentu akan mengurangi keaslian lingkungan desa tradisional Nggela. Penurunan kualitas juga disebabkan oleh kebiasaan masyarakat setempat memelihara ternak seperti babi dan anjing yang bebas berkeliaran di halaman desa. Babi dan anjing yang dibiarkan bebas juga membuang kotorannya di halaman desa atau bahkan di batu nisan.

Faktor lain yang menyebabkan penurunan kualitas lingkungan desa tradisional Nggela adalah penempatan makam sporadis di halaman desa sesuai dengan hak masing-masing mosalaki.

Permukaan makam-makam itu juga dibubuhi keramik berwarna-warni dan bergelombang dengan besi bergelombang sehingga memengaruhi atmosfer lingkungan desa tradisional Nggela yang dianggap alami dan secara visual memengaruhi mata.

Berdasarkan hasil studi penelitian, disarankan agar untuk melestarikan tradisi megalitik di desa adat Nggela, ritual atau upacara yang berkaitan dengan tradisi megalitik ini perlu dipertahankan dan sejauh mungkin menghindari perubahan yang dapat menghilangkan makna. atau nilai yang terkandung dalam tradisi ritual megalitikum tersebut.

Untuk alasan ini, kualitas melakukan ritual atau upacara tradisional seperti "Nggua Loka Lolo" dan upacara "Nggua Loka Pare" tradisional atau ritual tradisional lainnya dapat ditingkatkan dari waktu ke waktu. Demikian juga, sisa-sisa budaya megalitik yang ada, baik dalam bentuk kuburan lama (kuburan leluhur) maupun penanda teritorial tertentu di wilayah desa tradisional Nggela perlu dilestarikan, baik dalam konteks mempertahankan nilai-nilai budaya yang ada Dan untuk kepentingan pendidikan budaya dan pariwisata. Untuk mencapai tujuan ini, direkomendasikan bahwa kuburan tua (kuburan leluhur) dari komunitas Nggela yang saat ini telah dilapisi dengan keramik atau diplester dengan semen acian dapat dikembalikan ke orisinalitasnya, yaitu dalam bentuk struktur batu alam.

Selanjutnya, dalam rangka mendukung program pemerintah, khususnya pelestarian desa tradisional atau desa tradisional, baik sistem pemukiman maupun arsitektur rumah tradisional yang ada di desa adat Nggela dilestarikan sedapat mungkin, sehingga nilai budaya dan nilai estetika terkandung di dalamnya tetap berkelanjutan. Diusulkan pula bahwa rumah tinggal biasa atau rumah suku (klan) yang sudah punah dapat direkonstruksi (dibangun kembali) dengan menghindari penggunaan material buatan pabrik sejauh mungkin.

Dalam hal ini, penggunaan bahan baru dapat dilakukan, tetapi tidak disarankan untuk menggunakan bahan non-lokal (buatan pabrik), tetapi sebaliknya adalah bahan lokal alternatif yang dapat diperoleh dari lingkungan sekitarnya. Khusus untuk fasilitas utilitas lingkungan seperti jaringan pipa dan listrik yang tidak diatur di wilayah desa tradisional Nggela, harus ditata ulang untuk menjaga keaslian desa tradisional Nggela. Demikian juga kamar mandi / toilet dan kios yang terbuat dari bahan non-lokal (buatan pabrik) untuk dibongkar. Kamar mandi / toilet dan kios harus dibangun di luar wilayah desa tradisional Nggela.

Konsep ini dikembangkan, baik sebagai upaya untuk mempertahankan keaslian desa tradisional Nggela dan untuk menciptakan lingkungan yang indah yang mencitrakan lingkungan tradisional alami. Selanjutnya, untuk mengantisipasi penurunan kualitas lingkungan fisik di desa tradisional Nggela yang disebabkan oleh kebiasaan masyarakat setempat memelihara ternak seperti kambing yang dibiarkan bebas berkeliaran di halaman desa, itu harus segera dihentikan. Sebagai solusi, hewan peliharaan dibuat kandang khusus sehingga tidak membuang kotoran di halaman desa seperti sekarang ini.

Secara teknis kandang harus bertanggung jawab dan terletak sejauh mungkin di belakang deretan rumah tradisional. Selain itu, kotoran hewan atau kotoran ternak dapat diolah untuk pengomposan.

Untuk alasan ini, perlu untuk membangun sebuah baskom yang dapat ditutup untuk mencegah penyebaran bau melalui udara yang berdampak pada pencemaran lingkungan di sekitarnya.

Penelitian ini pasti akan terbatas pada studi tradisi ritual yang masih dipegang oleh masyarakat, yaitu tradisi ritual pemakaman, tradisi hidup dan tradisi ritual atau upacara tradisional "Nggua Loka Lolo" dan upacara tradisional "Nggua Loka Pare ". Sementara tradisi lain yang berkaitan dengan siklus hidup komunitas Nggela, seperti tradisi ritual kelahiran, pernikahan dan kematian, belum diteliti dalam penelitian ini. Aspek lain, yang juga perlu mendapat perhatian dalam studi lebih lanjut adalah ritual pembangunan rumah tradisional. Tim Pers NTT WBN urAurel Do’o│Redpel – Indra │